by

Malam Panjang di RSUD Ryacudu, Direktur & Kontraktor Dijerat Korupsi

-daerah-2260 Views

Angka itu bukan sekadar nominal. Di baliknya, ada rakyat yang mestinya mendapatkan pelayanan lebih baik. Ada pasien yang mungkin berharap ruang rawatnya lebih layak. Tapi kini, ruang-ruang itu malah menjadi saksi bisu dari praktik kotor yang menggerogoti sistem.

Kejanggalan demi kejanggalan terungkap. Dalam proyek tersebut, Aida yang kala itu menjabat sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), justru bekerja sama dengan pihak yang bukan pemenang tender. Irwanda Dirusi, sang pelaksana lapangan, diduga menjalankan proyek sebagai subkontraktor liar—di luar mekanisme yang sah.

“Kami temukan bahwa pelaksana proyek bukanlah pihak yang memenangkan tender,” jelas Muhammad Azhari Tanjung, Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus Kejari Lampung Utara, kepada awak media malam itu.

Tak hanya soal prosedur, ketidaksesuaian volume pekerjaan dengan kontrak membuat angka kerugian negara semakin menganga. Dalam rincian yang dibacakan, ditemukan kekurangan masing-masing:

  • Rp30 juta lebih dari proyek ruang ICU,
  • Rp82 juta lebih dari ruang Kebidanan, dan
  • Rp98 juta lebih dari ruang Penyakit Dalam.

Padahal, ruang-ruang inilah yang menjadi garis depan dalam layanan rumah sakit. Ruang tempat bayi dilahirkan, tempat nyawa dipertaruhkan, tempat pasien menunggu harapan.

Kini, Aida dan Irwanda resmi ditahan. Mereka dititipkan ke Rutan Kelas IIA Kotabumi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di mata hukum. Tapi perkara ini belum selesai.

Kejari Lampung Utara membuka kemungkinan adanya tersangka baru dalam kasus ini. Penyelidikan masih terus berjalan, dan setiap pihak yang terlibat akan diselidiki lebih dalam.

“Siapa pun yang mengetahui dan terkait dalam proyek ini, kami minta kerja samanya. Jangan tunggu kami datang dengan surat perintah,” tegas Azhari Tanjung.

Kasus ini kembali menyadarkan publik, bahwa korupsi bukan hanya tentang uang, tapi tentang nyawa dan pelayanan publik yang dirampas diam-diam. Ketika anggaran kesehatan diselewengkan, maka yang dirugikan bukan hanya negara—tapi juga rakyat kecil yang datang ke rumah sakit dengan harapan dan doa.

Dan malam itu, di tengah kota Kotabumi yang mulai senyap, mobil tahanan melaju perlahan. Membawa dua orang yang pernah dipercaya mengelola ruang-ruang penyembuhan, tapi kini harus menjawab di ruang-ruang keadilan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *