“Dulu ramai, sekarang cuma bikin sedih. Pedagang rugi, pengunjung malas datang,” keluh seorang warga, menatap taman yang dulu menjadi tempat berkumpul dan bersantai.
Taman ini dibangun dengan dana APBD, dimaksudkan sebagai etalase keindahan Waykanan. Namun pasca Pilkada, wajahnya berubah drastis. Dari simbol kemajuan menjadi monumen keterlantaran. Pertanyaannya, jika halaman depan rumah sendiri saja tak terurus, bagaimana dengan fasilitas publik di sudut-sudut pelosok yang jauh dari pandangan?
Kini, taman kota Waykanan berdiri seperti cermin buram: memantulkan realitas tata kelola daerah yang tak seindah baliho kampanye, dan mengingatkan warga bahwa janji manis bisa layu lebih cepat daripada rumput yang tumbuh di musim hujan.(eeng)







Comment